Asal Usul Nama-Nama Desa di Kecamatan Rubaru, dari Jejak Pohon Waru hingga Keraton Banasare
- Mohammad -
- 16 Jul, 2026
Kecamatan Rubaru saat ini terdiri atas 11 desa, yakni Basoka, Mandala, Karangnangka, Pakondang, Matanair, Tambaksari, Banasare, Bunbarat, Kalebengan, Rubaru, dan Duko. Masing-masing nama diyakini memiliki latar belakang historis maupun linguistik yang menarik untuk ditelusuri.
Rubaru, Jejak Pohon Waru di Tanah Sumenep
Nama Rubaru diduga berasal dari kata baru, sebutan masyarakat Madura untuk pohon waru (Hibiscus tiliaceus). Pohon waru dikenal sebagai tanaman peneduh yang banyak tumbuh di tepi jalan, sungai, pematang, hingga kawasan pantai.
Meski memiliki tajuk yang tidak terlalu lebat, waru banyak ditanam karena sistem perakarannya tidak terlalu dalam sehingga tidak merusak jalan maupun bangunan di sekitarnya.
Dalam bahasa Madura, huruf "w" kerap mengalami perubahan pelafalan menjadi "b". Karena itu, kata waru diucapkan menjadi baru. Fenomena serupa juga ditemukan pada kata sawah yang dilafalkan saba, maupun bawah yang menjadi baba.
Adapun penyebutan Rubaru diyakini merupakan bentuk reduplikasi atau pengulangan kata dalam bahasa Madura. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang mengulang kata secara utuh, bahasa Madura lazim mengulang bagian akhir kata. Dari kata baru-baru, kemudian berkembang menjadi ru-baru atau Rubaru.
Penamaan tersebut diduga berkaitan dengan kondisi wilayah pada masa lampau yang dipenuhi pohon waru. Meski demikian, cerita rakyat atau folklore mengenai asal-usul nama Rubaru masih memerlukan kajian lebih mendalam untuk memperkuat bukti sejarahnya.
Banasare, Dari Wanasari hingga Keraton Sumenep
Selain Rubaru, Desa Banasare juga memiliki nilai historis yang sangat penting. Nama desa ini kerap disebut dalam sejumlah literatur kuno mengenai sejarah Sumenep sebagai salah satu pusat pemerintahan Keraton Sumenep pada abad ke-14.
Kala itu, wilayah tersebut dikenal sebagai Keraton Banasare, bertepatan dengan masa ketika Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Wikramawardhana, keponakan sekaligus menantu Raja Hayam Wuruk.
Secara etimologis, nama Banasare diyakini berasal dari kata Wanasari, gabungan dua kata dalam bahasa Sanskerta, yakni wana yang berarti hutan, dan sari yang bermakna pusat atau inti.
Tokoh masyarakat Banasare, Fathorrahman, menuturkan bahwa pada masa lampau kawasan tersebut dipenuhi pepohonan rindang yang menciptakan suasana sejuk dan nyaman bagi siapa saja yang singgah.
"Bahkan Raja Sumenep waktu itu, Jokotole, dikenal menyukai keasrian kawasan ini. Karena itulah kemudian wilayah tersebut diberi nama Wanasari yang dalam pelafalan masyarakat Madura berubah menjadi Banasare," ujarnya.
Perubahan pelafalan dari Wanasari menjadi Banasare juga menunjukkan bagaimana bahasa Madura beradaptasi terhadap pengaruh bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta, sekaligus membentuk identitas lokal yang tetap bertahan hingga sekarang.
Penelusuran asal-usul nama desa di Kecamatan Rubaru tidak hanya memperkaya pengetahuan sejarah lokal, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap nama wilayah menyimpan kisah panjang tentang alam, budaya, bahasa, dan perjalanan peradaban masyarakat Sumenep.
(Bersambung ke Bagian 2)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


